PUJIAN KIBARUL ULAMA’ KEPADA IMAM AL-GHOZALY Al Hafizh Adz Dzahabi (673-748 H) dalam kitabnya Siyar A'lam an Nubala juz XIX halaman 232, memulai biografi Imam Ghazali dengan ucapan beliau : - الغزالي الشيخ الامام البحر، حجة الاسلام، أعجوبة الزمان، زين الدين أبو حامد محمد بن محمد بن محمد بن أحمد الطوسي، الشافعي، الغزالي، صاحب التصانيف، والذكاء المفرط “Al-Ghazali, Syaikh, Imam, Lautan, Hujjatul Islam, keajaiban zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, At-thusi, Asy-syafi'i, al Ghazali, orang yang mempunyai banyak karangan dan orang yang sangat cerdas” Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali Qoddasallohu Sirroh, beliau adalah seorang tokoh ilmuwan yang melaut, dan pemuka hati yang gemilang yang Tak pernah di dapatkan baik di kalangan Syafi'iyyah ataupun lainnya di akhir zaman ini, yang seperti beliau dan seperti kitab kitab karangan beliau. Dialah keindahan zamannya yang besar kadarnya selaku pensyarah kitabullah dari sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Beliau diakui oleh banyak sekali para Hujjatul Islam lainnya, diantaranya Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Astqalany, beliau banyak sekali mengambil ucapan Imam Ghazali pada kitabnya Fathul Bari beliau banyak merujuk fatwa Imam Ghazali dari kitabnya Ihya Ulumuddin, demikian pula Hujjatul Islam Imam Nawawi, demikian pula Al Hafizh Imam Qurtubiy, Al Hafizh Imam Assuyuthiy, (Al Hafizh adalah gelar bagi mereka yg telah hafal 100.000 (seratus ribu hadits) berikut sanad dan hukum matannya. قال النووي كاد الاحياء ان يكون القرأن ~ هامش إحياء ج 1 ص 17 Hampir saja posisi Ihyâ’ menandingi al-Qur’an”. Sanjungan tersebut disampaikan oleh tokoh karismatik `Ulamâ’ul-islâm al-Imâm al-Faqîh al-Hâfizh Abû Zakariya Muhyiddîn an-Nawawi atau lebih dikenal dengan sebutan Imâm Nawawi Shâhibul-majmû`, yang hidup dua abad pasca Imâm Ghâzali. Quthbil-’auliyâ’ as-Sayyid Abdullâh al-`Aydrus berpesan kepada segenap umat Islam untuk selalu berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan penjelasan keduanya, menurut beliau, telah termuat dalam kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn karya Imâm Ghâzali. Dua komentar ulama tadi telah membuktikan keagungan kitab ini dan besarnya anugerah yang diraih oleh Imâm Ghâzali. Sampai-sampai kritikus dan peneliti Hadits Ihyâ’, al-Imâm al-Faqîh al-Hâfîzh Abûl Fadhl al-`Irâqi, turut memberikan apreseasi positif terhadap kitab yang ditakhrijnya itu. Beliau menempatkan Ihyâ’ sebagai salah satu kitab teragung di tengah-tengah khazanah keilmuan Islam yang lain. Sungguh agung sanjungan ulama-ulama tersebut terhadap kitab Ihyâ’ dan al-Ghâzali. Karenanya, tidak berlebihan bila Syârih (komentator) kitab tersebut, Murtadhâ az-Zabîdi, memunculkan sebuah image “andaikan masih ada nabi setelah Nabi Muhammad niscaya al-Ghâzali orangnya. Imâm Ghâzali telah mengkonsep materi yang ditulisnya dalam empat klasifikasi kajian pokok. Dari masing-masing klasifikasi tersebut terdapat sepuluh pokok sub pembahasan utama (kitab). Secara global, isi keseluruhan kitabnya telah mencakup tiga sendi utama pengetahuan Islam, yakni Syarî`at, Tharîqat, dan Haqîqat. Imâm Ghâzali juga telah mengkoneksikan ketiganya dengan praktis dan mudah ditangkap oleh nalar pembaca. Sehingga, as-Sayyid Abdullâh al-`Aydrus memberikan sebuah kesimpulan bahwa dengan memahami kitab Ihyâ’ seseorang telah cukup untuk meraih tiga sendi agama Islam tersebut. Telah berkata Sayyid Bakri dalam Kifayatul Atqiyaa waminhajul Asyfiyaa halaman 98 : ولا يطعن في الاحياء الا ضال مضل بل قال بعض العارفين والله لو بعث الله الأموات لما أوصوا الأحياء الا بما في الاحياء وفيه انتفاع لاهل الابتدائ والانتهاء والتوسط لانه مذكور فيه ما يصلح للفرق الثلاثة. “Dan tidak ada yang membantah Ihya’ Ulumiddin itu melainkan orang yang sesat lagi menyesatkan, bahkan berkata sebagian arifin; "Demi Allah, jika sekiranya Allah bangkitkan orang mati niscaya tidaklah mereka berpesan terhadap mereka yang hidup, melainkan dengan apa yang ada dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, dan di dalamnya ada manfa'at pelajar pemula, tinggi, dan tawassuth (sedangtengah2) karna di dalamnya disebutkan perkara yang patut untuk tiga golongan tersebut”
عليكم بملازمة احياء علوم الدين فهو موضع نظر الله وموضع رضاالله فمن احب
وطالعه وعمل بما فيه فقد استوجب محبة الله ومحبة رسوله وملائكته وأنبياءه
وأوليائه وجمع بين الشريعة والطريقة والحقيقة في الدنيا والآخرة وصار عالما
في الملك والملكوت
“Tetaplah kalian dengan melazimkan Kitab Ihya’ Ulumuddin, karna dia itu tempat “pandangan” Allah dan keridloan-Nya. maka barangsiapa yang mencintainya dan menelaahnya serta mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, maka sesungguhnya Ia telah berhak memperoleh kecintaan Allah
dan kecintaan Rosul-Nya, kecintaan malaikat malaikat-Nya, kecintaan para Nabi-Nya, kecintaan para Wali-Nya, dan berarti Ia telah menjadikan antara Syari'at, Thoriqot, dan Hakikat di dunia dan Akhirat.dan jadilah Ia orang yang Aalim di alam malakut”
Di samping karena cakupan materi yang tersaji di dalamnya, kitab ini juga ditopang oleh jurnalistik yang sistematis. Sistematika penulisan yang begitu rapi menjadikan Ihyâ’ lebih menarik dan mudah dibaca oleh berbagai kalangan; sederhana, berbobot, dan tidak terlalu meluas dalam penyajian. Lagi pula istilah-istilah rumit juga jarang ditemui dalam pembendaharaan kata yang terpakai.
Inilah dibeberapa alasan kenapa kitab ini sangat digemari oleh banyak kalangan. Oleh fuqaha, Ihya’ dijadikan sebagai rujukan standar dalam bidang fikih. Oleh para sufi, kitab ini menjadi materi pokok yang tidak boleh ditinggalkan. Kedua studi ilmu tersebut telah tercover dalam karya momumental Imâm Ghâzali ini.
Sebenarnya, tidak hanya dua kelompok ini yang banyak mereferensi Ihya’,
Para teolog Islam juga menganggap penting untuk menempatkan Ihya’ sebagai bahan dasar kajian. Paradigma bertauhid yang disajikan Imâm Ghâzali di awal pembahasan kitab Ihya’ sangat membantu pada pencerahan akal dalam proses peng Esaan Allah. Imâm Ghâzali mampu mengarahkan logika pembaca pada sebuah kesimpulan yang benar dalam bertauhid dengan nalar berfikir yang tepat dan berdiri kokoh di atas dalil-dalil naqli.
Komentar
Posting Komentar